Ketika Terapi Tidak Bekerja
- Winnie Hakim

- Aug 14
- 4 min read
Kamu akhirnya menerima diagnosis yang selama ini kamu tidak pernah sangka akan kamu dapat. Berbagai saran diberikan dan mungkin terkadang didampingi obat, hingga pada akhirnya, psikolog atau pihak profesional lainnya mengatakan bahwa kamu perlu menerima terapi. Kamu mungkin menjalankannya, tetapi mulai muncul kerisauan dalam hatimu.
“Bagaimana jika saya tidak pernah sembuh?”
“Bagaimana saya bisa yakin bahwa terapi bisa menyembuhkan saya?”

Semua perasaan itu wajar dan mungkin saja membuatmu jadinya ragu-ragu. Tetapi memahami bagaimana terapi bekerja bisa membantumu untuk mengambil langkah yang tepat untuk permasalahanmu.
Proses Terapi
Terapi merupakan proses ketika seseorang menerima treatment atas kondisi yang sedang mereka hadapi. Dalam konteks kesehatan mental, proses ini biasanya disebut sebagai psikoterapi. Ada begitu banyak jenis psikoterapi yang memiliki tujuan berbeda, tergantung pada permasalahan masing-masing klien. Beberapa jenis yang paling dikenal luas adalah CBT, ACT, dan DBT.
Apakah terapi bisa “berhasil”?
Salah satu miskonsepsi yang sering dialami oleh banyak orang adalah menganggap bahwa terapi merupakan langkah cepat untuk menyembuhkan seseorang. Seperti sebuah tongkat sihir ajaib yang bisa menghilangkan masalah dalam sekejap. Sementara, kenyataannya..
Terapi bukanlah sebuah solusi instan
Menjalankan terapi bukan berarti akan menghilangkan masalahmu secara instan. Coba bayangkan, jika masalah tersebut sudah mengakar sejak kecil atau terjadi selama bertahun-tahun, tentu tidak akan selesai hanya dalam satu atau dua sesi pertemuan. Sebaliknya, terapi adalah proses panjang untuk mengenali diri lebih dalam hingga ke akarnya, lalu bersama-sama mencari solusi terbaik dalam permasalahan yang dihadapi saat ini. Proses tersebut tentunya akan kembali pada masing-masing individu.
Terapi bisa terasa menyakitkan di awal
Ya, benar. Proses terapi terkadang bisa memberikan dampak yang terasa memburuk sebelum akhirnya membaik. Ketika kamu harus membuka kembali trauma masa lalu, mungkin saja timbul perasaan kewalahan, bingung, takut, cemas. Kamu bisa merasakan kembali emosi tidak menyenangkan tersebut seolah-olah sedang menghadapi masalahnya lagi saat ini.
Proses terapi tidak selalu berjalan mulus
Ada kalanya, kamu akan mengalami peningkatan seperti mendapatkan insight, menemukan solusi, perilaku berubah, atau bahkan belajar merespons terhadap emosimu dengan lebih baik. Namun kenyataannya, proses pemulihan ini tidak selalu naik lurus. Akan ada fase ketika kamu merasa berputar-putar di masalah yang sama, terjebak dalam trial dan error hingga merasa kehilangan arah.
Terapi menuntutmu keluar dari zona nyaman
Ketika kamu membuka dirimu hingga ke akar-akarnya, perasaan tidak nyaman akan timbul. Kamu mungkin akan menghakimi diri sendiri atau merasa malu dengan keadaanmu. Namun perlu diingat, rasa tidak nyaman ini adalah bagian yang sangat wajar dalam proses penyembuhan.
Proses terapi membutuhkan waktu
Kenyataannya, tidak ada terapi yang selesai hanya dalam 1–2 kali pertemuan. Proses ini membutuhkan komitmen waktu yang tidak sebentar, mulai dari hitungan bulan, bahkan bisa memakan waktu hingga bertahun-tahun tergantung kompleksitas masalahnya.
Belum menemukan kecocokan dengan terapis
Ada kalanya kamu merasa psikolog atau psikiater yang ditemui terkesan kaku atau sekadar "menjalankan pekerjaan" mereka. Akibatnya, kamu merasa tidak benar-benar dipedulikan, muncul keraguan, dan merasa tidak aman untuk membuka diri sepenuhnya. Ketidakcocokan chemistry dengan pihak profesional adalah hal yang sangat sering terjadi.
Jika begitu, mengapa seseorang memerlukan terapi?
Pengalaman terapi yang kamu lalui mungkin menakutkan dan kamu tidak tahu mengapa itu perlu dilakukan. Kamu juga mungkin merasa dirimu “terlalu rusak” sehingga terapi pun tidak akan mampu memperbaiki masalahmu.
Namun perlu diingat: Proses yang berat bukan berarti sia-sia.
Terapi tetap bisa menjadi ruang aman dan nyaman untuk membantumu pulih dengan cara yang paling sesuai untukmu. Tentunya ada langkah-langkah yang bisa kamu ambil agar proses terapi berjalan lebih bermakna dan sesuai dengan kebutuhanmu.
Apa yang bisa dilakukan ketika terapi tidak bekerja?
Validasi setiap perasaan yang muncul
Akui bahwa semua perasaan itu nyata. Semua perasaan cemas, takut, malu, bingung, dan lelah yang kamu rasakan. Perasaan-perasaan itu membuktikan bahwa kamu adalah seorang manusia yang sedang berproses. Meskipun perjalanannya tidak selalu indah, perasaan-perasaan tersebut adalah bagian yang perlu dihadapi dan dilalui, bukan dihindari.
Memahami bahwa ketidaknyamanan adalah tanda pertumbuhan
Kenyamanan tidak selalu berarti semua baik-baik saja. Terkadang kita justru terjebak di zona nyaman yang membuat kita berhenti bertumbuh. Ketika kamu berani melangkah keluar dari zona tersebut, gejolak batin dan perjalanan yang tidak mulus wajar terjadi. Namun di balik ketidaknyamanan tersebut, kamu sebetulnya sedang berjalan ke arah yang jauh lebih baik.
Lakukan refleksi diri secara jujur
Coba tanyakan kembali kepada diri sendiri: Apakah tujuan atau gol terapi ini sudah cukup jelas? Apakah kamu sudah cukup terbuka selama terapi? Atau jangan-jangan, sesungguhnya ada ketakutan tersembunyi yang menghambatmu untuk tidak menelusuri dirimu lebih dalam?
Jangan ragu mengambil jeda atau istirahat
Jika kamu merasa proses terapi terlalu cepat hingga membuatmu kewalahan, tidak apa-apa untuk mengambil jeda sejenak. Ambil waktu yang kamu butuhkan hingga kamu meras siap lagi. Istirahat bukan tanda menyerah, dan terkadang jeda justru dibutuhkan untuk memberikan ruang refleksi yang lebih dalam.
Mempertimbangkan untuk mengeksplorasi metode terapi lain
Tidak ada satu metode terapi yang pasti selalu berhasil di semua orang. Kamu diperbolahkan mengganti metode terapi jika dirasa kurang cocok. Sebagai contoh, kamu merasa pendekatan CBT terlalu fokus pada pikiran (kognitif), maka kamu bisa mendiskusikan untuk beralih ke metode yang lebih fokus pada perasaan.
Bicarakan secara terbuka dengan terapismu
Ruang terapi adalah ruanganmu. Kamu diperbolehkan bicara secara jujur jika ada hal-hal yang mengganjal, termasuk jika itu datang dari sikap profesional yang menangani kamu. Hubungan terapeutik antara klien dengan psikolog atau psikiater perlu dibangun secara perlahan. Jika kamu merasa tidak bisa terbuka, tidak aman, dan pendekatan tidak lagi sesuai dengan kebutuhanmu, tentu kamu diperbolehkan untuk mencari psikolog atau psikiater lain yang cocok.
Proses penyembuhan adalah perjalanan yang kompleks. Ketika terapi tidak bekerja, bukan berarti itu sebuah kegagalan. Ingat bahwa proses tidak linear, penuh trial dan error, dan ada kalanya kamu perlu melewati jalan yang berbeda. Tentunya, tidak ada salahnya dengan mencoba karena dengan mencoba, kamu akan semakin memahami dengan apa yang kamu butuhkan. Semangat untuk terus berproses, teman-teman Eüdiance.



