top of page

Compassion Fatigue: Causes, Consequences, and Interventions

  • Writer: Frida Condinata
    Frida Condinata
  • Nov 7, 2025
  • 2 min read

Person with blond hair rests head on arms atop a turquoise table in a train, looking out a window. Outside, blurred green scenery passes by.

Compassion fatigue adalah kondisi kelelahan emosional, fisik, dan psikologis yang terjadi akibat paparan berkepanjangan terhadap penderitaan orang lain. Kondisi ini terutama memengaruhi seseorang dengan profesi caregiver, seperti tenaga kesehatan, terapis, pekerja sosial, dan petugas tanggap darurat. Compassion fatigue juga dikenal sebagai trauma sekunder yang merujuk pada bagaimana trauma yang dialami orang lain dapat memengaruhi diri sendiri.


Istilah ini pertama kali diperkenalkan oleh Charles Figley pada tahun 1990-an dan sering digambarkan sebagai biaya dari kepedulian (the cost of caring). Meskipun mirip dengan burnout, sebetulnya compassion fatigue secara khusus terkait dengan tekanan emosional akibat empati yang mendalam dan keterlibatan dalam membantu individu yang mengalami trauma dan kesulitan. 

 

Penyebab Compassion Fatigue

Compassion fatigue dapat muncul akibat paparan berulang terhadap penderitaan dan kesulitan yang dialami orang lain, yang pada akhirnya menurunkan kemampuan seseorang untuk berempati dan memberikan perawatan secara optimal.


Beberapa faktor utama berkontribusi terhadap perkembangannya, antara lain: 

  1. Paparan Berkelanjutan terhadap Trauma

    Individu yang bekerja dengan korban kekerasan, pelecehan, penyakit, atau bencana sering kali menyerap emosi negatif dari klien mereka. Akumulasi emosional yang tidak dikelola dengan baik dapat menyebabkan tekanan psikologis yang signifikan. 

  2. Beban Kerja Tinggi dan Tuntutan Emosional

    Tekanan atau beban pekerjaan yang mewajibkan individu untuk terus menerus memberikan dukungan emosional dalam situasi apapun dapat menyebabkan kelelahan fisik dan psikologis. 

  3. Kurangnya Perawatan Diri

    Individu yang lebih memprioritaskan kebutuhan orang lain dibandingkan kebutuhan dirinya sendiri cenderung mengabaikan perawatan diri mereka sendiri, yang pada akhirnya memperburuk kelelahan emosional yang dialami. 

  4. Riwayat Trauma Pribadi

    Individu yang memiliki pengalaman trauma yang belum terselesaikan lebih rentan mengalami compassion fatigue karena respons emosional individu terhadap permasalahan klien cenderung lebih intens. 

  5. Budaya dan Dukungan di Tempat Kerja

    Minimnya dukungan dari lingkungan sekitar serta beban kerja yang berlebihan dapat meningkatkan risiko terjadinya compassion fatigue dalam lingkungan kerja profesional. 

 

Gejala-Gejala Compassion Fatigue 

Gejala Emosional 

  • Adanya perasaan tidak berdaya dan keputusasaan

  • Adanya perasaan mati rasa

  • Lebih sensitif dari biasanya, adanya perasaan frustasi

  • Sulit berempati kepada klien ataupun pasien

 

Gejala Fisik 

  • Rasa lelah yang berlebihan

  • Permasalahan tidur

  • Sakit kepala dan nyeri otot

  • Permasalahan pencernaan

  • Imun tubuh yang melemah

 

Gejala Kognitif dan Perilaku 

  • Penurunan konsentrasi

  • Menarik diri

  • Meningkatnya penggunaan alkohol dan obat-obatan

  • Kesulitan dalam menjaga batasan pribadi dan profesional

 

Dampak dari Compassion Fatigue 

Penelitian yang dilakukan oleh Figley (1995) menyampaikan bahwa individu yang mengalami compassion fatigue akan memengaruhi area pekerjaan profesional dan kesejahteraan emosional dari individu tersebut. Kondisi emosional ini dapat membuat individu mengalami kondisi burnout, ketidakpuasan dalam pekerjaan dan tentunya hingga mengundurkan diri dari pekerjaannya (Cocker & Joss, 2016). Selain itu akan berdampak juga pada performa kerjanya seperti menurunnya konsentrasi ketika bekerja dan penurunan kualitas dalam menangani suatu hal ketika bekerja (Sorenson et al., 2016).

 

Intervensi dan Strategi Koping 

  1. Do self-care!

    Melakukan olahraga secara teratur, menjaga pola makan sehat, dan tidur yang cukup dapat meningkatkan emosi positif dan menjadi koping stress yang baik. 

  2. Menerapkan mindfulness, meditasi, serta melakukan hobi dapat membantu seseorang mengelola tekeanan emosional yang dimiliki.

  3. Seeking Professional Help! 

    Mencari bantuan profesional dapat menjadi wadah bagi seseorang untuk mengekspresikan emosi dan mendapatkan masukan dalam mengelola beban kerja, serta dapat mencari dukungan sosial seperti menceritakan permasalahan yang dialami kepada orang terdekat dan terpercaya untuk mengekspresikan emosi yang dirasakan. 

  4. Set Boundaries! 

    Belajar untuk menetapkan batasan profesional dan pribadi sangatlah penting yang bertujuan untuk mencegah keterlibatan emosional yang berlebihan dalam penderitaan klien (countertransference).

  5. Organizational Intervention 

    Institusi dapat menerapkan sistem yang mendukung work-life balance, memberikan pelatihan untuk stress management, serta menciptakan budaya yang peduli terhadap kesehatan mental. 

  6. Build Awareness 

    Memahami tanda-tanda dari compassion fatigue serta mengembangkan strategi koping dapat membantu untuk mengenali dan menanganinya sejak dini. 

 

Compassion fatigue merupakan permasalahan yang serius bagi caregiver, tenaga medis dan tenaga kesehatan. Permasalahan ini dapat berdampak pada kesejahteraan dan efektivitas individu. Tentunya, mengenali gejala serta menerapkan strategi koping yang efektif sangat penting untuk menjaga kesehatan emosional. Bagi Eüdiance yang mengalami kesulitan dalam mengatasi compassion fatigue, jangan lupa untuk mencari bantuan profesional ya! 

bottom of page