top of page

Emotional Ambivalence

  • Writer: Winnie Hakim
    Winnie Hakim
  • May 15
  • 3 min read
Brown eggs in a carton with drawn faces showing different emotions: one sad, one skeptical, and one smiling. Soft lighting, neutral background.

Apa itu Emotional Ambivalence?


Rika yang berusia 27 tahun baru saja memutuskan untuk resign dari kantornya sekarang. Keputusan ini sudah Rika pikirkan dalam setahun terakhir dan banyak gejolak yang ia rasakan hingga tiba di keputusan ini. Rika tidak betah dengan gaji dan benefit yang diterima. Ia sering kali lembur dan juga bekerja ketika weekend, namun tidak ada kompensasi lebih yang diberikan. Atasannya juga sering memberikan pekerjaan dadakan dan terkadang memarahi Rika ketika dirasa Rika tidak sesuai ekspektasinya. Rika merasa sangat tertekan, namun bingung ketika ingin resign karena Perusahaan tersebut cukup bergengsi dan bagus untuk portofolionya. Rika juga sangat dekat dengan teman sekantornya.


Pada akhirnya, Rika memutuskan resign dan perasaannya campur aduk. Satu sisi, Rika merasa kecewa dengan Perusahaan karena tidak memberikan kompensasi yang sesuai. Rika juga merasa lebih lega dan senang karena bisa keluar, sehingga stresnya berkurang. Namun Rika juga merasa sedih karena harus kehilangan teman-teman satu tim yang sangat solid dan loyal. Ia juga takut bahwa ia mengambil keputusan yang salah dan akan menyesalinya di kemudian hari.


Dalam situasi di atas, terlihat bahwa Rika mengalami apa yang disebut sebagai emotional ambivalence. Adapun emotional ambivalence adalah pengalaman ketika seseorang memiliki perasaan positif maupun negatif sebagai respons terhadap situasi yang terjadi.


Kapan Emotional Ambivalence bisa terjadi?

Emotional ambivalence bisa terjadi ke siapapun dan kapanpun. Perasaan manusia sangat kompleks. Terkadang situasi-situasi tertentu akan membuat kita bingung. Sebagai contohnya ketika menghadapi orang tua, kita merasa sayang kepada orang tua kita, tetapi terkadang kita kesal dan marah ketika mereka memiliki sikap-sikap yang kurang menyenangkan.


Begitu juga dengan ke pasangan. Terkadang kita dapat merasa kesal ketika pasangan melakukan kesalahan, namun di sisi lain, kita merasa sayang sehingga memaafkan kesalahan mereka meskipun mereka membuat kita sedih.


Fenomena emotional ambivalence juga sangat mungkin kita rasakan pada diri sendiri. Pernahkah kalian merasa bangga dengan pencapaian yang kalian miliki, tetapi di satu sisi, ada perasaan kecewa karena mungkin ini pencapaian yang biasa saja di mata orang lain atau bahkan kalian takut orang lain menilai kalian terlalu sombong ketika membanggakannya?

Jadi bisa dibilang, perasaannya sangat campur aduk, dan nano-nano.

 

Lalu, pertanyaannya.. Apakah Emotional Ambivalence Normal?


Woman in an orange sweater sits pensively on stone steps. Overcast sky in the background. Mood is contemplative.

Jawabannya, ya! Terlepas dari terkadang situasi bisa sangat membingungkan. Sebetulnya emotional ambivalence adalah fenomena yang cukup umum terjadi. Namun tentunya, semua perasaan ini kita dapat alami dalam batas yang sehat. Dalam beberapa studi tertentu, ditemukan ketika tingkat kebahagiaan dan kesedihan kita dalam porsi yang seimbang, maka itu dapat meningkatkan kesejahteraan psikologis (Adler dan Hershfield dalam Li et al., 2024).


Namun, ketika sudah terjadi di dalam batas tidak sehat, maka ini bisa menjadi sebuah isu yang perlu diperhatikan. Ketika tingkat emotional ambivalence yang dirasakan semakin tinggi, maka semakin besar juga kemungkinan seseorang mengalami depresi, stres, dan kecemasan (Li et al., 2024).

 

Cara Mengatasi Emotional Ambivalence

Meskipun perasaan seperti itu normal, namun kita perlu berhati-hati dalam mengatasinya. Terutama, emotional ambivalence bisa datang ketika kita mau mengambil keputusan penting dalam hidup dan langkah-langkah yang tepat perlu dijalankan untuk mengambil keputusan yang terbaik.

  1. Sadari konflik yang kamu rasakan

    Mulailah dari mengkesplorasi dan menuliskan semua perasaan yang kamu rasakan. Apakah itu sedih? Marah? Kecewa? Tulis semua yang kamu rasakan dan cari tahu dari mana perasaan itu timbul. Belajar untuk menerima semua perasaan itu menjadi bagian dari diri. Semua perasaan itu wajar dan tidak ada yang salah, namun perlu berhati-hati dalam meresponsnya.

  2. Pahami yang sejalan dengan value kamu

    Ketika meneliti diri sendiri, mungkin akan muncul berbagai macam pikiran yang berlawanan. Kunci dari semuanya adalah untuk kembali melihat mana yang sesuai dengan prinsipmu. Kamu mungkin merasa sedih, kecewa, dan marah karena dipukul oleh pasanganmu, tapi di sisi lain, kamu masih mencintainya. Kamu tidak tahu keputusan apa yang tepat untuk diambil. Perasaan itu valid, tapi perlu diperhatikan apa yang menjadi dasar penilaianmu. Jika kamu berpikir bahwa memukul bukanlah tindakan yang tepat dan tidak bisa ditoleransi, maka kamu tahu kamu perlu meninggalkan hubungan tersebut terlepas dari adanya perasaan masih mencintai pasanganmu.

  3. Ambil tindakan secara sadar dan penuh pertimbangan

    Terkadang, pilihan terbaik bukanlah pilihan yang menyenangkan semua pihak. Namun pilihan terbaik adalah pilihan dengan solusi yang paling tepat untuk kondisimu saat ini.

 

Pada akhirnya, berbagai perasaan muncul bukanlah sebuah pertanda bahwa kamu lemah. Namun itu menunjukkan bahwa kamu adalah manusia yang bisa berpikir secara mendalam dan penuh kompleksitas. Tentu itu juga adalah cara kita untuk memahami diri lebih dalam dan lebih mencintai diri sendiri lagi. Tetapi perlu diingat bahwa seiring dengan perasaan, keputusan juga perlu diambil berdasarkan pertimbangan pikiran yang matang. Dengarkanlah diri sendiri dengan lebih baik dan jujur, maka kita akan berjalan menuju versi diri kita yang lebih utuh dan berdaya.


Referensi

Li, S. M., Zhu., Y., & Chen, M. S. (2024). Emotional ambivalence in daily life: Implication for depression, anxiety, and stress. Dynamic Emotional Ambivalence.


bottom of page