Membangun Ketangguhan Mental Anak Melalui Rutinitas Sehari-hari
- Jennifer Amanda

- Dec 5, 2025
- 3 min read

Di tengah kemajuan teknologi dan kemudahan hidup saat ini, banyak anak tumbuh dalam lingkungan yang serba nyaman. Segala kebutuhan tersedia dengan cepat, dan hampir setiap kesulitan segera diselesaikan oleh orang tua. Tanpa disadari dapat menghambat proses pembentukan karakter dan ketangguhan mental anak. Anak-anak menjadi terbiasa dibantu, enggan berusaha sendiri, dan tidak siap menghadapi tantangan yang membutuhkan kemandirian serta daya juang.
Padahal, kehidupan di dunia nyata tidak selalu berjalan mulus. Dunia nyata menuntut kemampuan untuk menyelesaikan masalah, bertahan dalam tekanan, serta bangkit saat gagal. Jika anak tidak dibiasakan menghadapi kesulitan sejak dini, mereka berisiko tumbuh menjadi pribadi yang mudah menyerah, tidak percaya diri, dan bergantung pada orang lain dalam mengambil keputusan.
Lalu, bagaimana cara menyiapkan anak agar punya mental tangguh sejak usia dini?
Salah satu jawabannya adalah melalui rutinitas harian yang terstruktur dan penuh makna. Orang tua tidak perlu tunggu mereka besar, justru masa kecil adalah waktu terbaik untuk membentuk karakter. Berikut beberapa cara sederhana tapi berdampak besar:
Berikan Tanggung Jawab Ringan
Anak perlu tahu bahwa ada hal-hal kecil dalam hidup yang menjadi tanggung jawabnya, bukan tugas orang tua. Dengan memberikan tanggung jawab, anak belajar disiplin dan punya rasa tanggung jawab terhadap dirinya sendiri.
Contoh konkret:
Minta anak umur 5–7 tahun merapikan tempat tidur sendiri setiap pagi.
Anak SD bisa menyiapkan isi tas sekolah malam sebelumnya.
Ajak mereka bantu pekerjaan rumah, seperti mengambil cucian, atau merapikan mainan sendiri.
Jangan Langsung Dibantu Saat Mereka Kesulitan
Kadang orang tua terlalu cepat turun tangan karena tidak tega lihat anak kesusahan. Padahal, dengan memberi mereka kesempatan mencoba dulu, kita sedang melatih kemandirian. Anak akan belajar menyelesaikan masalah dan percaya pada kemampuannya.
Contoh konkret:
Biarkan anak mencoba mengikat tali sepatu sendiri meskipun awalnya salah.
Saat anak jatuh dari sepeda, jangan langsung digendong—biarkan coba bangkit sendiri dulu.
Ketika mengerjakan PR, jangan langsung kasih jawaban. Tanyakan dulu: "Menurut kamu ini gimana?"
Ajari Konsekuensi dari Pilihan
Kalau anak tidak pernah menghadapi konsekuensi dari tindakannya, mereka bisa tumbuh tanpa rasa tanggung jawab. Anak perlu belajar bahwa setiap pilihan punya akibat.
Contoh konkret:
Anak main sampai malam → kesiangan sekolah → biarkan dia merasakan malu karena telat.
Anak lupa bawa bekal → jangan buru-buru mengantar → biarkan dia belajar lebih hati-hati besoknya.
Anak lupa mengikuti jadwal screen time pada gadget → tidak ada gadget esok hari
Libatkan Anak dalam Proses, Bukan Sekadar Hasil
Anak tidak perlu dimanjakan maupun dituntut dengan hasil sempurna. Lebih penting mereka ikut belajar proses dari awal, walaupun berantakan. Anak secara perlahan akan memahami bahwa belajar itu soal proses, bukan hasil instan.
Contoh konkret:
Ajak anak masak bareng, walau dapur jadi lebih kotor dan makanannya nggak sempurna.
Libatkan anak saat belanja ke pasar, biar tahu nilai uang dan cara memilih barang.
Biarkan anak bikin prakarya sendiri, tanpa kamu "merapikan" hasilnya
Latih Konsistensi, Bukan Kesempurnaan
Anak tidak perlu untuk langsung bisa segalanya, yang penting mereka mau mencoba dan konsisten. Hal ini membantu anak belajar bertahan dan tetap usaha meskipun gagal.
Contoh konkret:
Buat jadwal sederhana: Setiap pagi lipat selimut, sore baca buku 10 menit.
Kalau gagal, jangan marahi. Katakan: “Kamu udah coba, itu hebat. Besok kita coba lagi, ya.”
Gunakan sticker chart atau visual tracker untuk membantu mereka membangun kebiasaan.
Pada akhirnya, “mental tangguh itu dilatih, bukan diharapkan” Mental anak bukan sesuatu yang “nanti akan tumbuh sendiri”. Hal ini perlu dilatih, dibentuk, dan dimulai dari hal-hal kecil. Rutinitas harian yang terlihat sepele justru bisa menjadi fondasi karakter anak yang kuat. Ingat, anak yang mentalnya kuat bukan yang nggak pernah jatuh, tapi yang tahu cara bangkit sendiri.



