Whispers of the Past: The Emotional Connection Between Smell and Memories
- Frida Condinata

- Mar 27
- 3 min read

Pernahkah Eüdiance mencium wewangian tertentu yang langsung membawa kamu pada kenangan tertentu? Misalnya, mencium aroma roti yang mengingatkan kamu pada momen bersama seseorang, atau wangi pepohonan yang membawa memori tentang mantan. Bahkan, wewangian tertentu bisa membangkitkan kenangan masa lalu—baik yang menyenangkan maupun menyedihkan.
Mengapa memori bisa muncul kembali ketika kita mencium wangi tertentu? Berikut penjelasannya:
Memori adalah suatu proses psikologis yang melibatkan beberapa tahapan, yaitu memperoleh (acquiring), menyimpan (storing), mempertahankan (retaining), dan mengingat kembali (retrieving) informasi yang telah tersimpan. Proses penyimpanan memori ini melibatkan tiga langkah utama, yaitu pengkodean (encoding), penyimpanan (storage), dan pengambilan kembali (retrieval).

Kemampuan untuk mengakses dan menggunakan kembali informasi yang sudah disimpan dalam memori jangka panjang mengizinkan kita untuk menggunakan ingatan ini untuk membuat keputusan, berinteraksi dengan orang lain dan menyelesaikan permasalahan. Tetapi agar memori tersebut dapat digunakan, memori tersebut perlu diatur dengan cara tertentu.
Cara mengakses memori tersebut adalah menggunakan atau mencari suatu pemicu. Pemicu ini bertujuan untuk mengaktivasi ingatan yang berhubungan dengan pemicu tersebut. Dengan melihat atau mengingat tempat tertentu dapat mengaktifkan ingatan yang telah terjadi di lokasi tersebut.
Stimulus tertentu juga dapat menjadi pemicu yang kuat untuk mengingat suatu hal, salah satunya adalah indera penciuman yang dimiliki. Mencium aroma tertentu, seperti parfum ataupun kue yang baru selesai dipanggang dapat memunculkan suatu ingatan atau kenangan yang jelas. Prof. Laird (Colgate University) mengatakan bahwa hidung yang kita memiliki kemampuan yang cukup besar, salah satunya adalah stimulus yang dapat menggugah memori tertentu.
Bagaimana proses indera penciuman yang kita miliki dapat berhubungan dengan memori?
Indera penciuman atau olfaktori, memiliki jalur yang unik ketika berinteraksi dengan otak. Pada saat mendeteksi suatu aroma, reseptor olfaktori khusus di hidung mengirimkan sinyal ke olfactory bulb di otak. Dari sana, sinyal ini langsung diteruskan ke sistem limbik, yang mencakup amigdala (berkaitan dengan emosi) dan hipokampus (berkaitan dengan penyimpanan memori). Hubungan langsung ini menjelaskan mengapa aroma sering kali memicu kenangan emosional dan autobiografi dengan sangat kuat dan cepat.
Berbeda dengan indera lain seperti indera penglihatan atau sentuhan, yang diproses melalui talamus sebelum mencapai bagian otak lainnya, indera penciuman tidak melewati talamus, tetapi langsung menuju olfactory cortex.
Mengapa aroma sangat kuat dalam memicu kenangan?
Larsson, Lövdén, dan Nilsson (2003) dalam penelitiannya mengatakan bahwa indera penciuman memiliki keterkaitan kuat dengan memori episodik, terutama yang terbentuk pada masa anak-anak. Selain itu, Chu dan Downes (2000) mengatakan bahwa indera penciuman lebih efektif daripada rangsangan visual atau verbal dalam memicu memori autobiografis yang terkait dengan masa anak-anak. Hal ini diduga karena keterkaitan indera penciuman dengan sistem limbik selama masa-masa perkembangan otak yang plastis. Soudry et al. (2011) menjelaskan bagaimana sensitivitas olfaktori dan keterhubungan antara jalur penciuman dan sistem limbik lebih aktif selama masa anak-anak. Hal ini memungkinkan pengkodean memori olfaktori yang lebih dalam dan tahan lama dibandingkan dengan tahap perkembangan otak di usia dewasa. Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa banyak memori olfaktori yang terbentuk selama masa anak-anak ketika otak masih bersifat sangat plastis. Inilah sebabnya mengapa aroma tertentu, seperti bau khas rumah masa kecil atau wangi parfum orang tua memiliki kenangan yang mendalam yang diingat hingga sekarang.
Selain itu, penelitian yang dilakukan oleh Rubin, Groth dan Goldsmith (1984) menemukan bahwa suatu aroma dapat memicu memori yang bertahan sangat lama dengan akurasi yang cenderung tinggi, terutama ketika aroma tersebut berkaitan dengan pengalaman yang bermakna secara emosional. Memori olfaktori dapat bertahan lama karena hubungan antara jalur penciuman dengan sistem limbik, terutama bagian hipokampus yang terlibat dalam penyimpanan memori jangka panjang. Tidak seperti panca indera lainnya, jalur penciuman tidak melewati talamus, sehingga asosiasi emosional dan memori dapat terbentuk lebih kuat dan bertahan lebih lama.
Hubungan antara indera penciuman dan memori adalah bukti dari keunikan cara otak manusia bekerja. Indera penciuman memiliki jalur khusus menuju sistem limbik, yang mencakup amigdala dan hipokampus, sehingga menciptakan hubungan yang sangat kuat antara penciuman, emosi, dan memori. Maka, dapat disimpulkan bahwa wewangian tertentu mampu membawa kita kembali ke masa lalu, membangkitkan kenangan yang mendalam, dan membantu kita merangkai cerita hidup yang penuh makna.
Referensi
Chu, S., & Downes, J. J. (2000). Odour-evoked autobiographical memories: Psychological investigations of Proustian phenomena. Chemical Senses, 25(1), 111–116. https://doi.org/10.1093/chemse/25.1.111
Harvard Medical School. (2024, April). The connections between smell, memory, and health. Harvard Medicine Magazine. https://magazine.hms.harvard.edu/articles/connections-between-smell-memory-and-health
Larsson, M., Lövdén, M., & Nilsson, L.-G. (2003). Sex differences in recollective experience for olfactory and verbal information. Acta Psychologica, 112(1), 89–103. https://doi.org/10.1016/S0001-6918(02)00150-4
Rubin, D. C., Groth, E., & Goldsmith, D. J. (1984). Olfactory cuing of autobiographical memory. American Journal of Psychology, 97(4), 493–507. https://doi.org/10.2307/1422158
Soudry, Y., Lemogne, C., Malinvaud, D., Consoli, S. M., & Bonfils, P. (2011). Olfactory system and emotion: Common substrates. European Annals of Otorhinolaryngology, Head and Neck Diseases, 128(1), 18–23. https://doi.org/10.1016/j.anorl.2010.09.007



