Menyusun Target dan Menerima Diri di Akhir Tahun
- Felita Oktaviani

- Dec 26, 2025
- 3 min read
Updated: 5 days ago

Menjelang akhir tahun, banyak orang mulai untuk melihat kembali daftar target yang pernah dibuat sebelumnya. Ada yang membuat target mengenai pekerjaan, keuangan, kesehatan, pengembangan diri, dan berbagai target lainnya. Ketika terdapat hal-hal yang belum mencapai target, sering kali ada rasa kecewa yang muncul. Di saat seperti ini, mungkin pernah terpikir: Apakah saya gagal?
Pertanyaan ini sebetulnya tidak hanya berkaitan dengan target kita saja, namun juga berkaitan dengan bagaimana kita menilai diri kita sendiri dan apa yang kita nilai sebagai keberhasilan. Menyadari hal ini dapat membantu kita menutup tahun dengan lebih tenang dan optimis.
Apa itu target?
Target adalah tujuan yang ingin kita capai dalam jangka waktu tertentu. Dengan adanya target, kita tahu ke mana ingin melangkah dan apa yang perlu diupayakan. Di sisi lain, penting untuk menyadari bahwa target hanyalah alat bantu, bukan penentu nilai diri. Target membantu kita untuk bergerak, tetapi tidak selalu mencerminkan keseluruhan usaha atau proses yang kita jalani.
Terdapat banyak hal yang berada di luar kendali kita yang dapat membuat pencapaian target tersebut menjadi lebih sulit. Ketika target tidak tercapai, itu bukan selalu disebabkan oleh kurangnya usaha. Target bukanlah cerminan nilai diri kita. Pola pikir ini membuat evaluasi diri menjadi hitam-putih, padahal manusia jauh lebih kompleks. Misalnya, seseorang bisa saja tidak mencapai target kariernya, tetapi berhasil keluar dari hubungan atau situasi yang tidak sehat. Ketika target belum tercapai, yang perlu diperiksa adalah strateginya, bukan identitas dirinya. Dengan memahami hal ini, kita dapat menilai diri dengan lebih realistis.
Di sisi lain, sering kali target tidak lahir murni dari kebutuhan diri, melainkan dari harapan lingkungan. Misalnya, cerita sukses orang lain, standar keluarga, dan lain-lain. Akibatnya, saat target tidak tercapai, rasa kecewa dapat bercampur juga dengan rasa malu dan perasaan tertinggal. Padahal, tidak semua target relevan dengan kondisi diri kita. Kita perlu menyadari mana target atau tujuan yang betul-betul kita butuhkan, dan mana yang hanya kita kejar karena tekanan. Dengan memilah target tersebut, kita dapat lebih jujur terhadap diri sendiri.
Bagaimana cara untuk mengevaluasi target tanpa menyalahkan diri?
Terdapat beberapa cara untuk mengevaluasi target tanpa merasa gagal:
Fokus pada pencapaian yang sudah ada
Pencapaian ini termasuk pencapaian sekecil apapun. Terkadang kita hanya berfokus pada pencapaian besar sehingga kurang mengapresiasi pencapaian kecil yang dimiliki.
Catat pelajaran yang didapat
Apa yang sudah dipelajadi dari tahun ini? Apa yang dapat diterapkan di masa depan?
Kenali hambatan
Apa yang membuat beberapa target belum tercapai? Apa yang perlu diperbaiki untuk langkah selanjutnya?
Bersikap baik pada diri sendiri
Jangan selalu menghakimi diri atau membandingkan diri dengan orang lain. Setiap orang memiliki prosesnya masing-masing. Tidak semua tahun harus penuh dengan pencapaian. Ada tahun untuk bertahan, untuk belajar, untuk menyembuhkan diri, untuk menghadapi tekanan, untuk menyesuaikan diri dengan perubahan, dan lain-lain. Kita dapat bertanya pada diri sendiri, “Apa yang tahun ini ajarkan kepada saya?”. Jawaban dari pertanyaan ini akan membantu kita untuk berkembang.
Menutup tahun dengan menerima diri sendiri bukan berarti menyerah, justru memberi ruang untuk menyusun langkah baru yang lebih realistis atau sesuai dengan kondisi diri kita. Ingatlah kalau nilai diri tidak ditentukan oleh seberapa banyak target yang kita capai, tetapi oleh bagaimana kita memperlakukan diri sendiri ketika rencana tidak berjalan sesuai harapan. Mengakhiri tahun dengan penerimaan diri akan membuat kita lebih siap menghadapi tantangan baru dengan semangat yang lebih optimis.
Jika Eüdiance merasa kesulitan untuk berhenti merasa gagal dan terus menyalahkan diri sendiri, jangan ragu untuk meminta bantuan profesional ya!



