top of page

Optimisme vs Pesimisme

  • Writer: Winnie Hakim
    Winnie Hakim
  • Jan 23
  • 5 min read


Optimist vs Pessimist image: happy man smiles on left with positive emojis, sad man on right with negative faces. Bright vs gloomy vibe.

Yuk optimis aja yuk.. Everything will be fine.


Mungkin ini kata-kata yang sering disampaikan dari orang sekitarmu ketika ada masalah. Tak jarang, pikiran seperti ini timbul. “Masalahnya susah, ribet, tapi kok masih disuruh optimis?” sehingga kita menjadi kesal.


Terutama ketika berhadapan dengan masalah sehari-hari, hal ini mungkin menjadi halangan.


Aduh pusing.. rumah berantakan, sementara kerjaan lagi susah. Bos marah-marah terus, kerjaan numpuk, rekan sekerja tidak mau bekerja sama, lembur terus, istirahat tidak cukup, makan gak bisa, gaji seadanya, gak diapresiasi juga. Pulang ke rumah bukannya istirahat, malah ditanya kenapa gak habisin waktu sama keluarga. Gimana caranya optimis? Padahal hidup ya gini-gini aja.

 

Sadness

Mari kita semua sepakat bahwa masalah memang tidak terhindarkan. Kehidupan sehari-hari memang banyak lika-likunya. Dalam masa seperti itu, pikiran dan perasaanmu akan ditantang habis-habisan dan tak jarang kamu juga harus melindungi dirimu. Nyatanya meskipun masalah-masalah ini ada, seringkali kita mengabaikan diri sendiri dan membiarkan diri kita tenggelam dalam tekanan. Padahal, tanpa kita sadar, kita semakin tidak termotivasi, pola makan dan tidur jadi terganggu, atau bahkan sampai mengalami burnout.

 

Pertanyaannya, kenapa penting untuk optimis? Bukankah optimisme itu hanya angan-angan semata dan berpikir positif meskipun kenyataannya buruk? Mari kita simak ilustrasi di bawah ini!

 

Si Optimis dan Si Pesimis

Si optimis dan pesimis baru saja mendapatkan tanggung jawab baru dari atasan. Pekerjaannya sulit tapi mereka berdua dipercaya mengemban tanggung jawab tersebut untuk memimpin rekan-rekannya. Belum pernah ada yang melakukannya, jadi mereka berdua adalah orang pertama yang akan melakukan inisiasi.

Keluar dari kantor atasan, si pesimis mulai grogi dan cemas. “Eh optimis, takut deh. Aku gak bisa lakuin ini, aku saja kemarin hasil performanya pas-pasan. Aku yakin sih kayaknya aku gak bakal sebaik kamu, pasti nanti bos marah. Bos salah sih milih aku, yakin deh nanti dia pasti nyesal.” Si pesimis menggerutu dan mengeluhkan bahwa dia sudah sakit kepala memikirkannya.

Sementara si optimis menanggapi dengan berbeda. “Tenang pesimis. Menurutku ketika bos kasih tanggung jawab tersebut, tandanya beliau percaya dengan kita untuk menjalankannya. Performaku juga kemarin cukup menurutku, dan bukannya ini bisa jadi kesempatan untuk kita belajar ya?”

Si pesimis masih menggerutu bahwa ia tidak bisa melakukannya dan tidak sebaik si optimis, sementara si optimis menenangkan pesimis. Pada akhirnya, si pesimis mulai merasa tertinggal dan bingung ketika optimis maju dengan tenang, dan pesimis juga merasa ia tidak akan mampu bersaing. Alhasil, ia menyerah dan cenderung menghindar dari tanggung jawab, namun merasa makin stres. Sementara, optimis berusaha memberikan yang terbaik, ia juga belajar dari resources yang dimiliki dan memberikan kinerja yang mumpuni.


Dari ilustrasi di atas, kita mengetahui bahwa seseorang yang pesimis cenderung percaya bahwa kejadian yang buruk akan berlangsung lama, akan merusak segala sesuatu yang mereka lakukan dan adalah kesalahan mereka. Berhadapan dengan masalah yang sama, orang yang optimis akan cenderung percaya bahwa masalah ini hanyalah sementara dan satu permasalahan ini tidak akan melebar ke mana-mana. Mereka percaya bahwa ini bukan kesalahan mereka dan melihat secara realistis dari mana risiko sebuah permasalahan tersebut berasal. Mereka juga cenderung memandang sebagai tantangan dan akan berusaha lebih keras (Seligman, 2011).


Sebagai dampaknya, orang yang pesimis akan cenderung menyerah menghadapi masalah, lebih sering cemas, serta performanya menurun. Sementara orang yang optimis akan menunjukkan performa lebih baik dan juga lebih sehat secara fisik. Menariknya lagi, ternyata dengan menjadi optimis, juga akan berpengaruh ke aspek lainnya. Orang yang optimis akan cenderung lebih mampu dalam menghadapi tantangan, penuh harapan, lebih percaya dengan kemampuannya, dan juga lebih tidak merasa kesepian (Hakim et al., 2023).

 

Cara Meningkatkan Optimisme

Kabar baiknya, meskipun sepertinya menjadi pesimis terasa seperti hal yang permanen, nyatanya, kamu bisa untuk berubah menjadi lebih optimis. Tidak hanya sekedar berangan-angan, tetapi menjadi optimis adalah sebuah skill kognitif yang dapat dipelajari dan dilatih.


Tentunya menjadi seorang optimis bukan berarti menjadi sosok yang egois atau terlalu suka membanggakan diri. Tetapi menjadi optimis adalah cara seseorang untuk memandang permasalahan dengan sudut pandang yang jauh lebih mendukung, serta lebih fleksibel dan bukan buta.

  1. Sadari ketika pikiran pesimis itu muncul

    Langkah pertama dari semua adalah kamu harus menyadari kapan hal itu muncul dan dalam situasi seperti apa. Misalkan kamu melakukan kesalahan di kantor, kamu mungkin berpikir seperti “Saya betul-betul payah. Saya melakukan kesalahan konyol yang tidak biasanya saya lakukan dan ini menunjukkan kalau saya adalah karyawan yang tidak becus. Pasti atasan akan memberhentikan saya.” Ini adalah pikiran yang pesimis. Sadari ada kata-kata seperti ‘payah’, ‘tidak becus’, sampai berpikir bahwa akan dipecat oleh atasan.

  2. Distraksikan dirimu dari pikiran pesimis

    Ketika pikiran seperti tadi muncul, kamu bisa mengingatkan dirimu untuk berhenti berpikir, “Berhenti. Lebih baik saya pikirkan lagi masalah ini nanti, setelah pekerjaan saya semuanya selesai.” Tuliskan juga pikiran yang mengganggumu sebagai cara untuk mengeluarkannya. Dengan melakukannya, kamu akan mengurangi kekuatan dari pikiran pesimis tersebut.

  3. Berikan argumen untuk melawan pikiran tersebut

    Jika kamu menerima sebuah kalimat buruk dari seseorang, mungkin terpikirkan untukmu untuk membalas mereka. Hal yang sama terjadi ketika pikiran burukmu menyerang dirimu. Maka, berikan argumen untuk melawan mereka. Sebagai contoh seperti masalah tadi, kamu bisa menggunakan kerangka ABCDE milik Seligman (2011). Adapun ABCDE terdiri dari Adversity (masalah yang dihadapi), Belief (keyakinan yang kamu miliki terhadap permasalahan kamu), Consequences (dampak pikiran dan perasaan dari keyakinan kamu), Dispute (argumen atau perdebatan yang kamu berikan untuk melawan kepercayaan tersebut), dan Energization (hasil yang muncul dari upaya melawan keyakinan kita). Berikut contoh di bawah:


    Adversity: Melakukan kesalahan di kantor dan ditegur atasan.

    Belief: Saya betul-betul payah. Saya melakukan kesalahan konyol yang tidak biasanya saya lakukan dan ini menunjukkan kalau saya adalah karyawan yang tidak becus. Pasti atasan akan memberhentikan saya.

    Consequences: Saya merasa tidak berguna dan malu, bahkan ingin mengundurkan diri karena tidak cocok dengan posisi ini.

    Dispute: Saya memang melakukan kesalahan dan wajar jika ditegur oleh atasan. Namun kesalahan ini hanya terjadi sekali, sementara saya biasanya tidak melakukan itu sehingga menunjukkan bahwa saya mampu menghindari kesalahan. Saya bisa belajar untuk meningatkan performa saya dan memastikan kesalahan yang sama tidak berulang. Tentunya atasan perlu menegur agar saya tahu letak kesalahan saya, namun teguran itu bertujuan demi kebaikan saya dan bukan berniat untuk memberhentikan saya. Saya tidak perlu mengundurkan diri karena satu kesalahan ini tidak mengagalkan keseluruhan performa yang saya miliki.

    Energinization: Saya merasa lebih baik mengenai diri saya dan tidak khawatir dengan kesalahan saya. Saya tidak perlu berhenti kerja atau menyerah, melainkan memperbaiki kesalahan saya dan terus mempertahankan performa saya.


  1. Tidak meminimalisir risiko/bahaya yang mungkin terjadi

    Ketika menghadapi sebuah situasi, lihatlah secara realistis dampak buruk atau risiko yang mungkin dihadapi. Misalkan, seorang pilot tetap memilih menjalankan pesawat di tengah badai meskipun ada peringatan. Kondisi ini tentunya berisiko menimbulkan kematian dan kecelakaan, sehingga tidak seharusnya optimisme dipakai di sini. Sebaliknya ketika risiko tersebut minim, seperti berbicara dengan rekan kerja yang baru namun takut ditolak, atau mempelajari hal baru namun takut gagal. Maka gunakanlah optimisme dalam situasi tersebut.

  2. Fokus terhadap dampak dari pikiran tersebut

    Ketika muncul sebuah pikiran dan kamu tidak yakin apakah itu merugikan atau tidak. Maka kembali tanyakan dirimu, “Apakah pikiran ini berguna atau tidak?” Semisalkan kamu selalu berpikir kamu payah dalam pekerjaanmu, maka kamu sadar itu tidak berguna. Meskipun mungkin dalam kenyataannya ada beberapa hal yang tidak mampu kamu kerjakan, namun pemikiran tersebut justru menghambatmu dan tidak membuatmu berkembang.

  3. Fokus terhadap apa yang bisa diubah

    Jika melihat permasalahan tadi yaitu melakukan kesalahan di pekerjaan, maka sebetulnya penting untuk melihat bahwa ada berbagai faktor yang menyebabkan masalah terjadi. Contohnya berbagai faktor yang mungkin ada seperti kamu bekerja sambil mengobrol sama teman hingga salah, terus juga tidak cukup tidur jadi kurang optimal, serta atasan sedang merasa bad mood jadi lebih gampang menegurmu. Tentu dari ketiga faktor tersebut, kamu tidak bisa mengubah mood atasanmu. Tetapi kamu bisa mengubah perilakumu seperti tidak lagi mengobrol sambil bekerja dan tidur cukup agar meminimalisir kesalahan.


"Optimism doesn’t mean that you are blind to the reality of the situation. It means that you remain motivated to seek a solution to whatever problems arise.” – The Dalal Lama

bottom of page