Psychological First Aid: Teknik Sederhana Yang Bisa Membantumu Menolong Orang lain
- Jordyano Marcho Hong Diyanto

- Jul 24
- 4 min read

Pernah kah kamu mendengar istilah pertolongan pertama atau dalam bahasa inggrisnya dikenal dengan nama first aid ? Mungkin kamu tahu bahwa ini biasanya merupakan pertolongan awal yang diberikan ke orang-orang yang mengalami suatu masalah medis tertentu. Biasanya beberapa pertolongan pertama yang sering dilihat seperti memberikan CPR untuk orang yang mengalami henti nafas. Ada juga yang memberikan pertolongan dari luka baret, luka bakar, atau cedera tertentu.
Nah mungkin pertolongan pertama seperti itu sudah sering kamu dengar atau bahkan saksikan di film tertentu ya. Tapi tahukah kamu ternyata ada juga loh pertolongan pertama yang fokusnya membantu psikologis seseorang? Nah ini dikenal dengan nama Psychological First Aid. Kalau pertolongan pertama umumnya untuk permasalahan fisik atau kesehatan tertentu. Nah Psychological First Aid sendiri digunakan untuk membantu individu yang mungkin habis mengalami kejadian traumatis tertentu.
Mungkin kamu sering menyaksikan pertolongan pertama diberikan oleh individu dengan keterampilan tertentu seperti dokter, perawat, first responder, namun sesungguhnya pertolongan pertama bisa loh dilakukan oleh siapa saja asal individu tersebut mau mencoba mempelajari teknik-teknik pertolongan pertama terlebih dahulu. Nah Psychological First Aid juga bisa dilakukan oleh siapa pun yang mau membantu selama mereka mau mempelajari dulu apa saja teknik dan hal yang bisa dilakukan untuk memberikan pertolongan ini. Inilah hal yang bisa kamu pelajari dalam artikel ini. Namun sebelum belajar mengenai tekniknya, mari kita bahas dulu kapan kamu bisa menjalankan Psychological First Aid ini.
Kapan Psychological First Aid dapat digunakan?
Awalnya Psychological First Aid paling banyak diterapkan pada individu-individu yang baru saja mengalami bencana seperti kebakaran, banjir, tsunami, ataupun bencana alam lainnya. Namun tidak berhenti disitu, sebenarnya teknik ini juga bisa digunakan dalam area lain misalnya untuk membantu individu yang habis mengalami kekerasan, pelecehan, atau pengalaman traumatis lainnya. Bahkan saat ini, ada pelaksanaan Psychological First Aid yang bisa diberikan ke orang-orang yang mungkin tidak mengalami suatu kejadian secara langsung, namun punya teman, kenalan, atau keluarga yang habis mengalami kejadian tertentu. Kejadian ini mungkin membuat individu merasa cemas, takut, dan mengalami berbagai dampak Psikologis meskipun dia tidak secara langsung mengalami kejadian tersebut. Jadi sesungguhnya penggunaan Psychological First Aid cukup luas untuk membantu berbagai individu dengan berbagai kendala psikologis tertentu. Namun penting untuk kamu ingat bahwa Psychological First Aid hanya bersifat sebagai penanganan sementara. Individu yang bersangkutan mungkin masih akan memerlukan bantuan lebih lanjut oleh tenaga profesional di bidangnya.
Bagaimana Cara Memberikan Psychological First Aid?
Pada bagian ini kamu akan mempelajari salah satu teknik Psychological First Aid yang banyak digunakan di berbagai negara maupun situasi. Teknik ini dikenal dengan istilah RAPID Model. RAPID disini sendiri merupakan singkatan dari Rapport & Reflective Listening, Assessment, Prioritization, Intervention, dan Disposition. Nah detailnya akan kita bahas dibawah ini. Pada penjelasan dibawah kita akan menggunakan kata korban untuk mengacu kepada
R – Rapport & Reflective Listening
Merupakan tahap pertama dari Psychological First Aid. Di tahap ini hal yang perlu kamu lakukan adalah membangun hubungan dengan korban. Kamu perlu mengambil waktu untuk mengenal korban, mendengarkan ceritanya, dan memahami apa yang terjadi pada dirinya. Ini merupakan fondasi penting dari langkah selanjutnya. Pada tahap ini penting untuk kamu benar-benar fokus mendengarkan, memberikan dukungan yang sesuai. Kamu juga tidak perlu memberikan saran, menasihati, atau mencoba menguatkan. Kamu hanya perlu hadir, mendengarkan, dan berempati kepada korban.
A – Assessment
Ini adalah langkah kedua setelah kamu sudah mendengarkan cerita korban. Sekarang kamu perlu melakukan penilaian sederhana mengenai kondisi korban. Apakah dia mengalami luka secara fisik atau masalah kesehatan tertentu? Apa saja reaksi psikologis yang muncul?
Pada tahap ini kamu perlu mengenal perbedaan distres dan disfungsi. Distres sendiri mengacu kepada reaksi tertentu namun biasanya tidak sampai mengganggu fungsi keseharian individu. Contohnya individu mungkin merasa cemas, stres, takut, tidak nafsu makan, sulit tidur, marah, frustrasi, sakit kepala, bingung, atau merasa overwhelmed. Setelah mengalami kejadian traumatis, ini reaksi yang umum ditemukan. Meskipun individu dengan ciri tersebut tetap memerlukan bantuan, namun tingkat keparahannya masih dibawah dari disfungsi.
Disfungsi sendiri mengacu kepada gangguan signifikan yang dialami individu dan hal ini sampai mengganggu fungsi kesehariannya. Umumnya disfungsi akan lebih intens, signifikan, dan lebih parah dibandingkan simtom pada tahap distres. Contohnya seperti individu yang mengalami pemikiran bunuh diri, halusinasi, bersikap histeris, menunjukkan perilaku agresi, impulsif, menggunakan obat-obatan secara sembarangan atau tidak mengikuti anjuran pakai, atau serangan panik. Korban dengan disfungsi biasanya akan menunjukkan simtom yang lebih serius dan diiringi permasalahan dalam berbagai ranah kehidupan seperti pekerjaan, relasi, maupun kesehatan.
P – Prioritization
Langkah ketiga dalam pemberian PFA adalah Prioritization, disini kita akan menentukan apakah pemberian intervensi diperlukan. Langkah Prioritization ini menyerupai langkah triage dalam medis. Oleh karena itu penting bagi kita untuk menilai beberapa hal yakni:
Bagaimana konteks dari permasalahan yang terjadi
Apakah individu yang kita bantu berada dalam bahaya?
Apakah ada luka atau cedera fisik pada individu?
Apakah individu membutuhkan penanganan segera?
Apakah individu punya riwayat penyakit tertentu?
Apakah individu menunjukkan perilaku impulsif atau perilaku berisiko tinggi?
Adakah bukti-bukti yang menunjukkan keperluan pemberian intervensi secara langsung?
Ketujuh pertanyaan ini dapat membantu kita untuk menentukan apakah orang yang kita coba bantu membutuhkan intervensi sesegera mungkin baik secara psikologis ataupun medis.
I – Intervention
Langkah keempat adalah Intervention. Disinilah titik dimana intervensi itu diberikan. Dalam hal pelaksanaan PFA sendiri, intervensi disini bukan bertujuan untuk membantu menyelesaikan permasalahan klien. Ini artinya kamu tidak harus menjadi pahlaman yang menyelamatkan klien. Pemberian intervensi disini bertujuan untuk menstabilkan dan memitigasi reaksi negatif yang muncul. Ini memberikan waktu dan ruang yang dibutuhkan bagi individu sampai ia bisa mendapatkan bantuan dari tenaga ahli yang sesuai. Inilah kenapa pemberian intervensi pada PFA bukan berbentuk terapi ataupun konseling. Intervensi ini justru bisa hadir dalam berbagai bentuk seperti memberikan dukungan, membantu individu mendapatkan sumber daya yang dibutuhkan, membantu proses katarsis ataupun distraksi, membantu individu mendapatkan harapan, mengajarkan teknik manajemen stres, bahkan mengarahkan individu ke bantuan profesional yang dia butuhkan.
D – Disposition
Disposition adalah langkah terakhir dalam pemberian PFA. Pada tahap terakhir ini adalah fase dimana kita melakukan follow up kepada individu yang telah dibantu. Disini kita mungkin perlu menggali kondisi individu dan mempertimbangkan apakah individu perlu mendapatkan bantuan lebih lanjut.
Kesimpulan
Nah itulah kelima langkah dalam pemberian Psychological First Aid dengan menggunakan teknik RAPID. Ingat bahwa pemberian PFA ini berfungsi sebagai bantuan sementara sampai individu mendapatkan bantuan yang lebih sesuai dari tenaga kesehatan profesional. Pemberian PFA ini sendiri sebenarnya bisa dilakukan oleh siapapun yang memang mau membantu orang yang mengalami suatu bencana ataupun peristiwa traumatis lainnya. Aplikasi PFA sendiri cukup fleksibel untuk berbagai situasi. Pada akhirnya kamu tidak harus menjadi pahlawan yang menyelamatkan orang lain, kamu cukup membantu orang lain menemukan harapannya kembali.



