Belajar Kesabaran Lewat Puasa
- Frida Condinata

- Feb 13
- 3 min read

Puasa sering kali dipahami sebagai aktivitas menahan lapar dan haus dalam jangka waktu tertentu. Namun, jika ditinjau dari sudut pandang psikologi, puasa memiliki makna yang jauh lebih dalam. Puasa juga merupakan proses mental dan emosional yang melibatkan kesabaran, pengendalian diri, serta kemampuan seseorang untuk bertahan menghadapi ketidaknyamanan. Dalam konteks ini, puasa dapat menjadi sarana penting dalam membangun daya tahan mental.
Apa Itu Kesabaran?
Kesabaran merupakan kemampuan untuk menunda kepuasan, mengelola dorongan, serta tetap bertahan dalam kondisi yang tidak menyenangkan. Selama menjalani puasa, seseorang akan dihadapkan pada berbagai tantangan, seperti rasa lapar, haus, kelelahan, hingga perubahan suasana hati. Kondisi ini menuntut kita untuk menahan impuls biologis dan emosional kondisi ini dikenal sebagai self-control atau pengendalian diri (Baumeister & Vohs, 2007).
Baumeister dan Tierney (2011) menjelaskan bahwa kemampuan menahan dorongan merupakan keterampilan penting yang dapat dilatih melalui pengalaman sehari-hari. Penjelasan ini dapat menjadikan puasa sebagai salah satu bentuk latihan alami dalam menunda kepuasan. Seseorang dapat belajar bahwa dorongan tidak selalu harus segera dipenuhi dan diikuti, ketidaknyamanan yang dirasakan juga hanya bersifat sementara. Proses inilah yang membentuk kesabaran secara psikologis.
Selain itu, puasa juga berkaitan dengan kemampuan regulasi emosi. Regulasi emosi merupakan kemampuan untuk mengenali, memahami, dan mengelola respons emosionalnya secara adaptif (Gross, 2015).
Selama puasa, seseorang memiliki kecenderungan menjadi lebih sensitif secara emosional, seperti mudah tersinggung, lelah, atau merasa kurang stabil secara suasana hati. Namun, kondisi ini justru memberikan kesempatan untuk belajar mengontrol amarah. Mengontrol amarah dapat dilakukan dengan menyadari emosi yang muncul terlebih dahulu, lalu individu dapat belajar merespons emosi tersebut secara lebih terkontrol, bukan reaktif dengan melakukan berbagai cara coping stress strategies, misalnya breathing exercise, positive and short distraction dan positive self-talk.
Membangun Daya Tahan Mental melalui Puasa
Daya tahan mental atau resilience merujuk pada kemampuan seseorang untuk bertahan, beradaptasi, dan bangkit kembali ketika menghadapi tekanan atau kesulitan (Masten, 2014). Pengalaman menjalani puasa melibatkan proses menghadapi ketidaknyamanan secara konsisten, namun tetap menjalankan aktivitas dan tanggung jawab sehari-hari. Pengalaman ini dapat memperkuat keyakinan seseorang terhadap kemampuannya sendiri dalam menghadapi tantangan.
Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa seseorang dengan tingkat self-control yang baik cenderung memiliki penyesuaian psikologis yang lebih positif dan tingkat stres yang lebih rendah (Tangney, Baumeister, & Boone, 2004). Kegiatan puasa dapat dijadikan sebagai latihan pengendalian diri yang berpotensi memperkuat kapasitas tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Puasa dapat dipandang sebagai proses pembelajaran psikologis yang menyeluruh. Di dalamnya kita dapat melatih kesabaran, pengendalian diri, regulasi emosi, serta penguatan daya tahan mental. Proses ini menjadi lebih bermakna ketika seseorang mampu merefleksikan pengalaman puasanya, bukan sekadar fokus pada menahan lapar dan haus.
Dalam kehidupan modern yang serba cepat dan instan, puasa mengajarkan nilai penting dari menunggu, menahan diri, dan menghargai proses. American Psychological Association (2020) menekankan bahwa kemampuan bertahan dan beradaptasi terhadap tekanan dapat dilatih melalui pengalaman yang menantang namun terkontrol. Puasa menyediakan konteks tersebut secara alami dan berulang.
Puasa bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, melainkan sebuah proses psikologis yang melatih kesabaran dan membangun daya tahan mental. Melalui puasa, kamu dapat belajar menghadapi ketidaknyamanan, mengelola emosi, serta memperkuat kemampuan bertahan dalam situasi sulit. Jika dimaknai secara mendalam, puasa dapat menjadi salah satu sarana efektif untuk pengembangan diri dan kesehatan mental, sekaligus membantu kita menjadi lebih tangguh dalam menghadapi tantangan kehidupan.
Referensi
American Psychological Association. (2020). Building your resilience.
Baumeister, R. F., & Vohs, K. D. (2007). Self-regulation, ego depletion, and motivation. Social and Personality Psychology Compass, 1(1), 115–128.
Baumeister, R. F., & Tierney, J. (2011). Willpower: Rediscovering the greatest human strength. New York: Penguin Press.
Gross, J. J. (2015). Emotion regulation: Current status and future prospects. Psychological Inquiry, 26(1), 1–26.
Masten, A. S. (2014). Ordinary magic: Resilience in development. New York: Guilford Press.
Tangney, J. P., Baumeister, R. F., & Boone, A. L. (2004). High self-control predicts good adjustment, less pathology, better grades, and interpersonal success. Journal of Personality, 72(2), 271–324.



