Apakah Media Sosial Mempengaruhi Self-Diagnosis?
- Frida Condinata

- Aug 15, 2025
- 3 min read
Updated: Sep 11, 2025

Apakah Eüdiance pernah bertanya-tanya dan relate akan sesuatu setelah membuka media sosial?
Baik bertanya, “Kok gejalanya sama ya dengan yang saya alami?” atau mungkin sudah tidak bertanya, melainkan langsung memberikan statement, seperti ini: “Wah, sepertinya aku XXX” atau “Aku yakin aku memiliki XXX”.
Apakah Eüdiance pernah mengalami hal seperti itu? Pertanyaan dan statement mengenai suatu gejala gangguan yang muncul setelah bermain sosial media merupakan permasalahan yang sering terjadi ketika seseorang melakukan self-diagnose.
Pengaruh Media Sosial Terhadap Kesehatan Mental
Media sosial merupakan pelantar digital yang memfasilitasi penggunanya untuk saling berinteraksi atau membagikan konten berupa tulisan, foto, dan video. Penggunaan media sosial semakin meningkat setiap tahun. Para influencer serta educator juga menggunakan media sosial sebagai media promosi dan edukasi. Dalam beberapa tahun terakhir, konten edukasi mengenai psikologi dan kesehatan mental sedang meningkat pesat.
Dampak Positif Konten Edukasi
Konten edukasi yang dibuat memiliki dampak positif dan negatif. Berikut adalah beberapa dampak positif:
Meningkatkan “Mental Health Awareness” dan Mengurangi Stigma Sosial
Konten edukasi membantu masyarakat untuk menormalisasi pembahasan mengenai permasalahan kesehatan mental. Hal ini juga dapat membuat seseorang lebih terbuka untuk mencari bantuan dan membicarakan permasalahan yang dialami.
Konten edukasi bertujuan untuk menambah wawasan masyarakat mengenai apa yang sedang dialami oleh seseorang yang mengalami permasalahan psikologis. Wawasan ini bertujuan untuk membentuk rasa empati masyarakat terhadap individu yang mengalami permasalahan.
Aksesibilitas Suatu Informasi
Pembelajaran mengenai kesehatan mental sangat mudah diakses di era sekarang. Materi mengenai kesehatan mental dapat diakses di berbagai sosial media, blog post, YouTube, dan lain-lain. Edukasi ini dapat membantu menambah pengetahuan dan kesadaran akan masalah yang dialami oleh seseorang.
Penanganan Lebih Awal
Konten edukasi membantu seseorang menyadari gejala awal dari kondisi permasalahan psikologis. Seseorang yang mengetahui dan memahami gejalanya lebih awal dapat melakukan penanganan lebih cepat.
Konten edukasi sering mengajarkan berbagai strategi atau teknik dalam mengatasi permasalahan psikologis yang berguna untuk tidak memperparah gejala.
Masyarakat dapat mempelajari mengenai kondisi/gejala yang dialami, pilihan pengobatan, dan tips praktis untuk mengatasi permasalahan yang dialami.
Dampak Negatif Konten Edukasi
Namun, ada juga dampak negatif yang perlu diperhatikan:
Misinformasi dan Oversimplification
Semua konten yang dibuat dalam jaringan tidak selalu merupakan fakta dan akurat. Misinformasi dapat tersebar dengan cepat, membuat masyarakat memiliki persepsi yang kurang tepat.
Permasalahan psikologis memiliki karakteristik yang berbeda-beda di setiap individu. Terkadang konten edukasi yang disampaikan cenderung disederhanakan, sehingga kompleksitas mengenai permasalahan psikologis tidak tersampaikan.
Konten yang Cenderung Memberikan Trigger
Beberapa konten edukasi, terutama pengalaman personal atau deskripsi gejala, dapat memengaruhi (trigger) orang-orang yang sedang membaca atau mendengar. Seseorang dapat terpengaruh karena ia merasakan hal yang sama dengan yang dideskripsikan.
Self-Diagnosis dan Misdiagnosis
Bagi masyarakat yang sangat mempercayai konten edukasi, ada kecenderungan untuk mendiagnosa diri sendiri. Konten-konten edukasi mengenai ADHD, depresi, dan kecemasan sering kali membuat masyarakat melakukan ini.
Terdapat garis yang kurang jelas antara normal, abnormal, dan patologis. Hal ini sulit dijelaskan dalam konten edukasi psikologis, yang sering membuat seseorang keliru dalam menilai gejala yang dirasakan.
Dampak Buruk Self-Diagnosis
Self-diagnose adalah mendiagnosa diri sendiri mengidap sebuah gangguan atau penyakit berdasarkan pengetahuan diri sendiri atau informasi yang didapatkan secara mandiri. Terdapat beberapa dampak buruk bagi seseorang yang melakukan self-diagnose, yaitu:
Konten yang dibaca belum tentu valid, sehingga seseorang memiliki kecenderungan melakukan kesalahan dalam mendiagnosa.
Kesalahan dalam diagnosa dapat bersifat fatal, yaitu memperparah gejala awal yang dialami oleh seseorang.
Kesalahan dalam diagnosa juga dapat memperparah kondisi dengan melakukan intervensi yang kurang sesuai dengan gejala yang dialami.
Mendiagnosa diri sendiri dapat membuat seseorang merasa semakin tertekan dan khawatir atas kondisi yang dialami, hal ini dapat memperparah kondisi awal.
Proses Diagnosa yang Tepat
Padahal, proses diagnosa yang dilakukan oleh Psikolog/Psikiater cukup panjang, kompleks, dan detail. Proses-proses yang perlu dilalui adalah penggalian data (anamnesis/allo-anamnesis), asesmen psikologis, dan wawancara klinis. Dari data-data yang diperoleh, barulah Psikolog/Psikiater dapat memberikan penegakkan diagnosa, lalu akan diberikan saran intervensi dalam mengatasi permasalahan yang ada.
Jadi, apakah Eüdiance di sini pernah melakukan self-diagnose? Eits… jangan dibiasakan ya Eüdiance, karena terdapat dampak negatif yang bersifat fatal. Bagi Eüdiance yang merasa adanya permasalahan yang membuat dirinya kurang nyaman, jangan lupa untuk mencari bantuan profesional ya!



