Tips Menghadapi Interview Di Era Saat Ini: Dari Sudut Pandang Psikolog


Masuk ke dunia kerja, mengirimkan CV atau resume, dan melakukan Interview menjadi aktivitas umum dihadapi oleh banyak orang. Mayoritas orang mungkin akan mulai mencari pekerjaan ketika dia menyelesaikan SMA/SMK atau ketika menyelesaikan proses pendidikan sarjana. Tentunya mencari pekerjaan sendiri bukanlah aktivitas yang mudah. Tidak jarang kamu harus melamar di puluhan bahkan ratusan tempat kerja. Menunggu kabar setelah interview kerap kali membuat seseorang cemas. Sedangkan penolakan dapat menjadi hal yang menyakitkan.
Sebenarnya tips menghadapi interview kerja mungkin bisa ditemukan di berbagai artikel online, di media sosial, maupun dengan bertanya ke AI. Namun dari pengalaman saya yang juga kerap kali melakukan interview untuk membantu berbagai perusahaan mencari karyawan. Saya rasa masih banyak orang yang perlu mendapatkan informasi mengenai hal ini. Tips ini juga saya tuliskan dari sudut pandang Psikolog yang mungkin bisa memberikan informasi yang baru untuk Eüdiance semua. Mari langsung masuk ke tipsnya:
1. Impresimu Sangat Penting
Kamu mungkin sering mendengar kalimat “First impression matters”. Dalam menghadapi interview, menurut saya kalimat ini ada benarnya namun tidak harusnya hanya berhenti di first impression saja. Dari pengalaman saya berhadapan dengan para pencari tenaga kerja, mereka melakukan penilaian berdasarkan impresi dan kesan yang diberikan oleh sang pencari tenaga kerja. Tentunya penilaian ini akan langsung dimulai dari awal sang pencari kerja masuk ke dalam ruang interview. Namun tidak berhenti disana saja, ini terus berlangsung sepanjang interview bahkan yang kerap kali dilupakan orang adalah impresi ini bahkan bisa berubah di fase setelah interview.
Ya kamu tidak salah dengar. Penilaian interviewer ternyata tidak hanya terjadi dalam ruang interview namun juga diluar interview itu sendiri. Tentunya penilaian pertama akan dilihat dari CV kamu. Penilaian kedua biasanya terjadi pada fase komunikasi ketika kamu dipanggil interview. Penilaian ketiga akan terjadi pada fase komunikasi setelah interview. Ini termasuk ketika kamu mengajukan pertanyaan diluar dari waktu interview, respon kamu apabila diberikan tawaran kerja, maupun respon kamu ketika menerima informasi penolakan kerja. Pertanyaannya, jadi apa yang perlu kamu lakukan?
Salah satu cara membangun impresi yang baik untuk sepanjang proses ini adalah dengan mempunyai keterampilan pembawaan diri yang profesional. Bahkan saya sering menghadapi kondisi ketika pencari kerja menolak individu yang terbukti punya keterampilan dan kompetensi yang dibutuhkan, namun tidak dapat menunjukkan sikap profesional yang tepat. Inilah mengapa kamu perlu memastikan komunikasimu sesuai dan profesional. Secara praktis yang bisa kamu lakukan adalah:
Selalu memberikan respon yang hormat dan formal dalam membalas pesan, email, maupun komunikasi yang dibangun denganmu. Contohnya ketika kamu menerima panggilan interview, cobalah merespon seperti seperti “Terima kasih atas kesempatan melakukan interview yang Bapak/Ibu berikan. Saya dapat menghadiri interview sesuai jadwal yang ditentukan. Terima kasih”. Sebaliknya hindari respon yang tidak sesuai seperti “Ok Pak/Bu, terima kasih”, “Siap Pak/Bu”, “Baik, terima kasih”, atau bahkan tidak merespon.
Dalam proses interview juga gunakanlah bahasa yang formal dan profesional. Contohnya ketika ditanya mengenai ekspektasi gaji, kamu dapat merespon dengan “Ekspektasi gaji saya sendiri di kisaran 4-5jt Pak/Bu. Namun saya bersedia untuk merundingkan hal ini lebih lanjut”. Hindari respon seperti “Pengennya sih di UMR ya Bu/Pak”, “UMR saja sih Pak/Bu”, atau “Terserah perusahaan saja sih”.
Setelah proses interview, apabila kamu punya pertanyaan ataupun ingin mengetahui kelanjutan proses lowonganmu. Tanyakanlah hal ini pada momen yang tepat. Contoh menanyakan apakah kamu akan diproses lebih lanjut atau tidak beberapa jam setelah interview atau bahkan setiap beberapa hari sekali akan berdampak negatif padamu. Kamu mungkin dapat menanyakan kelanjutan proses lowongamu satu sampai dua minggu setelah jadwal interviewmu. Apabila tidak ada respon, hindari untuk melakukan “badgering” yakni perilaku bertanya terus-menerus yang justru jadi mengganggu buat orang lain.
Di era saat ini, banyak perusahaan yang juga melakukan interview secara online. Tentunya menghadapi situasi itu, kamu perlu hadir tepat waktu sesuai dengan jadwal interview. Pastikan juga koneksimu stabil, ruanganmu kondusif, dan suaramu akan terdengar jelas. Sebaiknya kamu melakukan interview online dengan menggunakan headset beserta komputer atau laptop. Hindari melakukan interview dengan menggunakan handphone karena ini mungkin dapat memberikan kesan negatif untuk interviewermu.
2. Energi dan antusiasme
Tips kedua yang menurut saya jarang dibahas pada tips umum adalah energi dan antusiasme. Ini sebenarnya masih berkaitan dengan impresi namun secara spesifik berbicara mengenai energi dan antusiasmemu terutama sepanjang proses interview itu sendiri. Penting untuk kamu menunjukkan level energi yang sesuai. Apabila kamu merespon pertanyaan dengan lesu, tampak menghindari kontak mata, dan ragu dengan jawabanmu maka mungkin interviewer akan mengasosiasikan hal ini dengan ketidak kompetenan. Sedangkan kalau energimu terlalu berlebihan, mungkin ini akan diasosiasikan dengan perilaku impulsif, tidak terkontrol, dan sulit diajak bekerja sama. Inilah mengapa untuk menemukan titik yang seimbang diantara keduanya. Langkah praktis yang bisa kamu lakukan untuk menunjukkan energi yang sesuai adalah:
Jawablah setiap pertanyaan dengan nada yang tenang dan tegas. Berikan penekanan pada jawaban yang kamu rasa penting.
Hindari perilaku bergumam dan penggunaan kata “Hmm”, “Ehh”, atau “Ahh”. Ini kata-kata yang biasa keluar ketika kamu merasa cemas atau butuh waktu berpikir. Kalau kamu butuh waktu untuk menjawab dengan tepat dibandingkan mengeluarkan kata-kata seperti itu, cobalah untuk mengkonfirmasi pertanyaan yang diberikan interviewer, ini akan memberikan kamu beberapa detik untuk berpikir contohnya “Baik bu, jadi pertanyaannya adalah keterampilan apa yang saya miliki dan sesuai untuk posisi ini ya”.
Bangunlah komunikasi tidak hanya dengan kata-kata namun juga dengan bahasa tubuh. Kontak mata, anggukan, bahkan pergerakan tangan yang sesuai dapat membuatmu tampil sebagai pribadi yang percaya diri dan kompeten terlepas dari kecemasan yang kamu rasakan.
3. Komunikasi Yang Efektif
Kalau kamu mencoba memperhatikan semua proses yang perlu dijalani ketika kamu mencari kerja baik dari pembuatan CV, mengikuti tes tertentu, maupun melakukan interview. Semua proses ini membutuhkan respon yang efektif. CV yang ringkas dan tepat sasaran akan membuatmu lebih mungkin diproses ke tahap selanjutnya. Proses tes ada sebagai filter untuk memastikan proses pencarian karyawan dilakukan secara tepat dan cepat. Hal ini jugalah yang dilihat dalam proses interview. Staff HR yang bertanggung jawab mencari karyawan akan mengharapkan jawaban yang efektif dan tepat dari kamu. Kalau kamu memberikan jawaban yang terlalu panjang ataupun terlalu pendek maka ini akan membuatmu mudah tereliminasi. Jadi yang bisa kamu lakukan untuk bisa berkomunikasi secara efektif adalah:
Berikan jawaban yang ringkas dan tepat. Kamu tidak perlu memberikan informasi yang tidak diperlukan contohnya ketika ditanya dimana kamu tinggal, kamu tidak perlu memberikan alamat lengkap, kamu cukup menjawab nama wilayahnya saja. Contoh lain ketika kamu diminta memperkenalkan dirimu, kamu tidak perlu menjelaskan mengenai hobby, informasi keluarga, ataupun riwayat pendidikan sedari kecil. Umumnya kamu cukup menjawab dengan pengalaman, riwayat pendidikan terakhir, kompetensi dan keterampilan yang kamu miliki.
Hindari perilaku “oversharing” yang tidak diperlukan. Contohnya ketika ditanya mengenai mengapa kamu berhenti dari tempat kerjamu yang terakhir, kamu tidak perlu menceritakan seluruh kisah dan kejadian yang kamu alami di tempat kerja tersebut. Kamu mungkin cukup menjawab dengan “Saya memutuskan untuk mencari tempat baru untuk berkembang”, “Kontrak saya sudah selesai dan perusahaan memutuskan untuk tidak melanjutkan”, “Kondisi ekonomi perusahaan menuntut dilakukan perampingan sehingga saya salah satu orang yang terdampak”.
4. Lakukan “Due diligence” Yang Sesuai
Tips terakhir adalah untuk kamu melakukan due diligence yang sesuai. Due diligence disini artinya kamu mencari tahu berbagai informasi terkait posisi dan perusahaan tempat kamu melamar kerja. Ini adalah langkah krusial yang bisa membuatmu lebih percaya diri dalam menghadapi interview. Untuk melakukan due diligence yang sesuai, cobalah untuk:
Membaca secara lengkap deskripsi lowongan pekerjaan yang dibuat. Temukan semua informasi yang relevan seperti lokasi, nama perusahaan, deskripsi pekerjaan, rentang gaji yang ditawarkan, dan posisi yang ditawarkan.
Membaca deskripsi pekerjaan saja tidak cukup. Ini kesalahan yang sangat sering saya temukan ketika melakukan interview kepada kandidat. Isi dari suatu lowongan pekerjaan tidak akan memberikan informasi detail mengenai perusahaan itu. Tugasmu lah untuk mencari tahu lebih lanjut sebenarnya perusahaan yang membuat lowongan tersebut bergerak di bidang apa, seberapa besar skalanya, dimana saja lokasinya, bagaimana kondisi industri dari perusahaan tersebut. Informasi ini adalah kunci penting untuk dapat memberikan jawaban yang tepat selama proses interview.
Kalau poin sebelumnya bicara mengenai informasi soal perusahaan. Kamu juga perlu mencari informasi tentang posisi yang kamu lamar. Temukan kompetensi apa saja yang diperlukan untuk jabatan tersebut, seperti apa pekerjaan yang dilakukan, masalah apa yang akan sering dihadapi dalam pekerjaan tersebut, dan berapa rata-rata gaji untuk posisi tersebut.
Pastikan kamu paham rata-rata gaji yang sesuai untuk posisimu melamar. Namun jangan hanya berhenti disitu. Kamu perlu memahami apakah tempat kamu melamar adalah perusahaan besar yang mampu memberikan gaji dalam nominal yang tinggi ataukah perusahaan itu merupakan perusahaan UMKM yang mungkin bekerja dengan jumlah tim yang lebih sedikit dengan kemampuan modal serta dana yang terbatas. Pastikan juga ekspektasi gajimu sesuai dengan kompetensi yang kamu miliki. Kalau kamu belum pernah punya pengalaman, mungkin mengharapkan gaji yang tinggi akan membuatmu kesulitan mendapatkan pekerjaan. Banyak kandidat yang suka mengharapkan mendapatkan gaji UMR, namun realitanya tidak semua pemberi kerja mampu memenuhi hal tersebut. Meskipun rasanya tidak adil, namun inilah realita pasar tenaga kerja yang ada di Indonesia.
Nah itulah 4 tips yang penting untuk kamu ingat dalam menghadapi interview di era saat ini. Semoga artikel ini dapat membantu Eüdiance mendapatkan pekerjaan yang diharapkan.



