Why Giving Feels So Good: The Hidden Neuropsychology of Holiday Gifts
- Frida Condinata

- Dec 19, 2025
- 4 min read

Hari Natal akan tiba sebentar lagi. Natal identik dengan cahaya hangat, dekorasi rumah yang meriah, dan tentunya momen kebersamaan. Tentunya siapa yang akan menolak menerika kado natal. It's a holiday gift season for all. Namun, di balik kertas kado yang berwarna warni dan kartu ucapan, terdapat sesuatu yang jauh lebih mendalam, yaitu sebuah proses psikologis dan biologis yang membuat aktivitas memberi hadiah begitu bermakna.
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa dengan memberi hadiah tidak hanya memperkuat hubungan kita dengan orang lain, tetapi juga dapat menurunkan tekanan stres dan meningkatkan kesejahteraan emosional diri kita. Setiap di bulan Desember, jutaan orang di berbagai negara ikut dalam ritual yang sama, yaitu saling bertukar hadiah. Meski sering dianggap sebagai kewajiban sosial, sebenarnya memberi hadiah adalah perilaku manusia yang sangat alami dan berakar pada rasa empati, koneksi, dan adanya makna tertentu.
Penelitian menemukan bahwa dengan memberi sesuatu dapat memberikan dampak emosional yang lebih kuat daripada menerima sesuatu. Dengan memberi, kita memiliki kesadaran bahwa kita memberi kebahagiaan pada orang lain. Hal ini menciptakan adanya rasa tujuan (sense of purpose) terhadap pemberi (Dunn, Aknin & Norton, 2008)
Berdasarkan teori behavioral psychology, ada konsep yang disebut warm-glow effect yaitu sensasi hangat dan menyenangkan akan muncul setelah kita melakukan kebaikan. Termasuk ketika beramal, membantu orang lain, ataupun memberi hadiah (Andreoni, 1990). Efek ini dapat terjadi karena kita merasa senang ketika melihat orang lain bahagia. Selain itu, munculnya gambaran atau identitas diri sebagai orang yang peduli semakin tinggi. Dengan memberikan sesuatu juga dapat membuat kita semakin dekat dengan orang tersebut dan tentunya suasana hati dapat meningkat secara positif. Walaupun hadiahnya kecil, efek emosionalnya tetap besar. Itulah sebabnya kartu ucapan sederhana bisa terasa lebih menyentuh daripada hadiah mahal (Aknin et al., 2013).
Apa yang terjadi dalam otak kita ketika kita memberikan hadiah? Saat memberi, otak mengaktifkan beberapa mekanisme penting:
Reward System
Reward system ini terletak di bagian ventral striatum dam nucleus accumbens. Otak bagian ini mengeluarkan dopamin, hormon yang menciptakan rasa senang, puas, dan termotivasi (Harbaugh, Mayr & Burghart, 2007).
Meningkatnya Hormon Oksitosin
Hormon oksitosin dapat diikenal sebagai hormon cinta yang akan membuat seseorang merasa lebih dekat. Hormon oksitosin dapat meningkatkan rasa percaya, hangat, dan terhubung dengan orang lain (Heinrichs et al., 2003).
Penurunan Kortisol
Kortisol adalah hormon yang memicu stres. Tindakan kebaikan, termasuk memberi, terbukti dapat menurunkan kadar kortisol dan membuat tubuh jauh lebih rileks (Raposa et al., 2016).
Dalam dunia psikologi, dengan memberikan hadiah kepada orang lain termasuk perilaku prososial. Perilaku prososial adalah tindakan kebaikan yang ditujukan untuk orang lain. Dengan melakukan perilaku prososial individu dapat meningkatkan rasa percaya, menciptakan ikatan sosial (Penner et al., 2005), meningkatkan resiliensi emosional dan menurunkan stres secara alami (Raposa et al., 2016).
Kenapa dengan memberi dapat menurunkan stress?
Mengalihkan Fokus dari Rasa Khawatiran
Pada saat memberi kita dapat mengalihkan pikiran kita, yaitu berhenti berfokus pada pikiran negatif dan mulai memikirkan kebahagiaan orang lain (Stellar et al., 2017).
Memperkuat Dukungan Sosial
Dengan memberi sesuatu kepada orang lain dapat membuat kita semakin kuat hubungannya dengan orang lai dan diri kita semakin terlindungi kita dari stress (Heinrichs et al., 2003).
Menumbuhkan Makna Hidup dan Rasa Syukur
Dengan memberi, dapat membantu kita mengingat apa yang benar-benar penting dalam kehidupan kita dan meningkatkan rasa syukur dalam keseharian kita (Emmons & McCullough, 2003).
Pada akhirnya, memberi bukan hanya ritual tahunan. Ini adalah cara manusia membangun hubungan, menciptakan makna, dan merasakan kehangatan emosional. Tetapi di lain sisi, kita juga perlu mengontrol perilaku memberi yang berlebihan dan berdampak pada aspek finasial kita. Pada intinya kita boleh memberi secara sehat dan tidak berlebihan. Tidak peduli besar kecilnya, setiap hadiah yang diberikan dengan ketulusan memiliki kekuatan untuk membuat dunia seseorang terasa lebih hangat.
Referensi
Aknin, L. B., et al. (2013). Prosocial Spending and Well-Being: Cross-Cultural Evidence for a Psychological Universal. Journal of Personality and Social Psychology, 104(4), 635–652.
Andreoni, J. (1990). Impure Altruism and Donations to Public Goods: A Theory of Warm-Glow Giving. The Economic Journal, 100(401), 464–477.
Dunn, E. W., Aknin, L. B., & Norton, M. I. (2008). Spending Money on Others Promotes Happiness. Science, 319(5870), 1687–1688.
Emmons, R. A., & McCullough, M. E. (2003). Counting blessings versus burdens: An experimental investigation of gratitude and subjective well-being in daily life. Journal of Personality and Social Psychology, 84(2), 377–389.
Harbaugh, W. T., Mayr, U., & Burghart, D. R. (2007). Neural responses to taxation and voluntary giving reveal motives for charitable donations.Science, 316(5831), 1622–1625.
Heinrichs, M., Baumgartner, T., Kirschbaum, C., & Ehlert, U. (2003). Social support and oxytocin interact to suppress cortisol and subjective responses to psychosocial stress.Biological Psychiatry, 54(12), 1389–1398.
Penner, L. A., Dovidio, J. F., Piliavin, J. A., & Schroeder, D. A. (2005).Prosocial behavior: Multilevel perspectives. Annual Review of Psychology, 56, 365–392.
Raposa, E. B., Laws, H. B., & Ansell, E. B. (2016). Prosocial behavior mitigates the negative effects of stress in everyday life. Clinical Psychological Science, 4(4), 691–698.
Stellar, J. E., et al. (2017). Self-transcendent emotions and their social functions: Compassion, gratitude, and awe bind us to others. Emotion Review, 9(3), 200–207.



